Month: February 2020

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) buka suara tentang alasan mengapa kelelawar tak lantas jadi ‘sakit’ walaupun ia jadi inang alami dari berbagai virus seperti misalnya Ebola dan virus corona yang sekarang sedang menjadi perhatian serius dari seluruh dunia. Kelelawar juga menjadi inang dari virus MERS, SARS dan 2019 n-CoV. Walaupun virus ini berbahaya sekali bagi manusia, faktanya adalah virus ini tak memberikan dampak yang berbahaya bagi kelelawar.

Alasan Kelelawar Tak Akan Sakit Walau Jadi Inang Virus Corona

Sugiyono Saputra, Peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI mengatakan bahwa hal ini terjadi karena evolusi adaptasi terbang kelelawar mengubah system imun dari kelelawar. “Dipublikasikan pada jurnal terkemuka, Cell Host dan Microbe, aparan DNA sitosol yang mana berlebihan pada sel-sel di kelelawar selama terbang maupun saat ada infeksi virus ini berperan kuat dalam seleksi alam untuk mengurangi aktivitas sensor DNA kelelawar,” ungkap Sugiyono dilansir dari CNN Indonesia, Rabu (5/2).

Sugiyono sendiri juga menjelaskan sensor DNA adalah jalur untuk memulai respon ilmu bawaan sesudah mengenali adanya pathogen (termasuk juga virus) yang akhirnya bisa menimbulkan gejala penyakit. Melemahnya sensor DNA pada kelelawar ini yang menyebabkan kelelawar menjaga keseimabngannya dalam keadaan effective response, bukan over response atau respon yang berlebihan pada virus.

“Sehingga tak menimbulkan gejala patologis dan memungkinkan kelelawar hidup bersama dengan berbagai jenis pathogen,” ungkapnya.

Dikutip dari CNN Indonesia juga, sebuah studi yang mana dilakukan tahun lalu dan diterbitkan dalam Jurnal Nature Microbiology mengungkapkan bahwa mekanisme yang mana membuat kelelawar dapat menampung banyak virus tanpa ‘sakit’ dijelaskan di dalamnya. Dibandingkan dengan mamaliar darat, kelelawar indotogel sendiri memiliki umur yang lebih panjang. Kelelawar bisa menghindari peradangan atau inflammation yang mana disebabkan virus secara berlebihan, yang mana sering menyebabkan penyakit parah pada kebanyakan hewan dan juga manusia yang terinfeksi virus.

Saat pathogen menginfeksi manusia dan tikus, system kekebalan jadi aktif dan respon inflamasi khas untuk melawan mikroba itu terlihat. Sedangkan respon peradangan yang terkontrol untuk bisa melawan infeksi sendiri membantu menjaga kesehatan manusia dan itu lah yang bisa berkontribusi pada kerusakan yang mana disebabkan penyakit menular.

Sebaliknya, peneliti-peneliti menemukan bahwa respon peradangan berkurang pada kelelawar ini untuk melawan virus. Peneliti-peneliti dari Duke-NUS Medical School, Singapura, sendiri memakai 3 buah virus berbeda yaitu virus influenza A, virus Corona, dan virus Melaka. Mereka kemudian menguji respons sel kekebalan dan juga sel lain dari kelelawar, tikus dan juga manusia pada virus ini.

Dan hasil uji cobanya menunjukkan peradangan tinggi dalam kasus tikus dan manusia. Namun peradangan ini secara signifikan berkurang sel-sel kekebakalan kelelawar. “Ini mendukung peningkatan toleransi kekebalan bawaan daripada peningkatan anti virus pada kelelawar sendiri. Ini juga bisa berkontribusi untuk pemahaman kita tentang peran peradangan dalam toleransi penyakit pada kelelawar sebagai inang virus,” kata para peneliti.

Peneliti-peneliti juga menemukan bahwa peradangan dapat berkurang dengan signifikan pada kelelawar adalah karena adanya aktivasi protein penting, NLRP3. Protein ini lah yang bisa mengenali stress seluler dan juga infeksi virus atau pun bakteri sehingga berkurang secara signifikan dalam sel kekebalan kelelawar.

Maka dari itu, kelelawar walapun ia adalah inang dari virus-virus berbahaya, termasuk virus corona, ia tak akan bisa terinfeksi virusnya sendiri dan malah bisa menyebarkannya.

Sutradara Dexter Fletcher pasalnya mengaku tertarik untuk menggarap biopic band The Clash setelah dirinya sukses menggarap kisah Elton John ke layar lebar lewat film Rocketman. “Mereka sudah pernah membuat film sendiri, tapi menarik juga,” kata Fletcher seperti dikutip dari CNN Indonesia, Senin (3/2).

Fletcher Tertarik Buat Film Biopik The Clash

Akan tetapi, ia menjelaskan bwah sekarang ini ia masih belum akan melakukan proses pengerjaan biografi bagi musisi atau pun tokoh lainnya. “Mungkin dalam sepuluh tahun, The Clash masih bakal terus ada. Pasti bagus,” ungkapnya.

Saat ditanya ketertarikannya untuk menggarap film tentang George Michael, ia menimpali, “Saya belum baca skripnya. Saya tidak tahu. Tentu, ia adalah orang yang luar biasa bagi saya, sebagai pembuat film. Saya perlu waktu untuk eksplorasi.”

Kemudian ia menegaskan bahwa pernyataan sekarang ini bukan berarti membuatnya lantas tak sama sekali tertarik menggarap film tentang George Michael. “Saya tidak mau berkata, ‘Tidak, saya tidak mau menggarap George Michael,’ karena akan diintrepetasikan dengan salah. Kalian harus baca skrip dulu dan tahu apa yang menarik. Tidak mudah untuk mengatakan, ‘Oh, saya mau membuat sesuatu tentang orang ini,’” tukasnya.

Memang kepiawaian Fletcher menggambarkan kisah-kisah hidup seorang tokoh semakin mendapatkan pandangan. Bahkan ia juga makin dipertimbangkan setelah ia menggarap film Rocketman yang menganggkat film tentang Elton John. Film itu berhasil menuai pujian dan bahkan mendapatkan satu nominasi Oscar untuk kategori Best Original Song.

Dexter Fletcher diincar Garap Sherlock Holmes 3

Bahkan kabar yang paling anyar adalah Fletcher diincar oleh rumah produksi Warner Bros. dikabarkan pertengahan tahun lalu bahwa mereka sedang berunding dengan Fletcher untuk merealisasikan Sherlock Holmes 3. Namun saat itu, Fletcher yang baru saja selesai menggarap Rocketman belum mencapai kesepakatan dengan Warner Bros.

Sampai saat ini juga belum ada keterangan resmi dari keduanya. Walau demikian, dilansir dari CNN Indonesia bahwa situs IMDB telah memuat nama Fletcher sebagai sutradara dari film detektif legendaris togel online itu. Dalam situs itu juga tertulis bahwa Sherlock Holmes 3 sedang berada dalam tahap pra produksi.

Jika kabar ini benar, maka film Sherlock Holmes 3 ini akan jadi film kelima Fletcher. Sebelumnya, sutradra yang berumur 53 tahun ini telah menggarap film Wild Bill (2011), Sunshine of Leith (2013), Eddie the Eagle (2015), dan Rocketman (2019).

Dilansir dari CNN Indonesia, Sherlock Holmes 3 sendiri bakal jadi lanjutan film sebelumnya yaitu Sherlock Holmes (2009) dan Sherlock Holmes: A Game of Shadow (2011) yang bercerita tentang seorang detektif bernama Sherlock Holmes yang mana diperankan Robert Downey Jr.

Kisah itu pasalnya diadaptasi dari seri novel Sherlock Holmes karya dari Sir Arthur Conan Doyle yang pertama kalinya muncul sejak tahun 1887. Sejak dulu, Sherlock diadaptasi ke lebih dari 200 film yang sudah diperankan lebih dari 700 orang aktor. Dua film sebelumnya juga sudah disutradarai dengan apik oleh Guy Ritchie.

Berdasarkan data yang dikutip dari CNN Indonesia, dua film tersebut berhasil meraup pendapatan yang luar biasa, US$ 524 juta dan US$ 545 juta.

Sampai dengan saat ini memang belum diketahui dengan jelas apakah Downey bakal kembali lagi di serial Sherlock Holmes, atau tidak. Begitu pun aktor Jude Law, yang berperan sebagai sahabat Holmes bernama Dr. John Watson.

Back to top